arnews.id
arnews.id Media Online

Warga Korut Kena Penyakit Misterius Tinggal Dekat Lokasi Tes Nuklir

88

arnews – Sejumah warga Korea Utara yang melarikan diri dari negara itu menceritakan pengalaman mereka tinggal di dekat situs uji coba nuklir.

Mereka mengaku pernah mengidap penyakit-penyakit misterius selama menetap di sana.

Perempuan dengan nama samara Lee Mi-young menuturkan dirinya kehilangan anak semata wayangnya karena sang buah hati mengalami kondisi pernapasan misterius.

Paru-paru anaknya meleleh. Namun, dia hanya didiagnosis TBC seperti anak-anak lainnya yang tinggal di daerah itu.

“Kami menusuk sisi paru-paru untuk mengalirkan cairan tiga kali sehari. Nanah keluar dan akhirnya dia meninggal,” kata Lee, dikutip dari Radio Free Asia, Kamis (6/7).

“Dia punya delapan teman, tapi satu atau dua dari itu mulai sakit dan didiagnosis TBC. Semuanya meninggal dalam waktu empat tahun. Anak saya didiagnosis dengan cara yang sama,” katanya.

Para dokter negara itu, kata Lee, tidak bisa menentukan bagaimana anak-anak tersebut tertular tuberculosis. Bahkan, dokter di apartemen itu sendiri tidak tahu kenapa bisa banyak anak mengidap penyakit TBC.

Lee meyakini bahwa putranya menderita radiasi akibat nuklir di wilayah tersebut.

“Mereka tidak tahu bahwa itu akibat uji coba nuklir,” kata Lee.

Barulah ketika tiba di Korea Selatan pada 2016, Lee mengetahui bahwa uji coba nuklir yang pernah dia rayakan itu hampir pasti menjadi penyebab anaknya meninggal dunia.

“Ketika uji coba nuklir ketiga dilakukan [2013], orang-orang bersorak bergembira setelah menonton siaran. Saya bangga bahwa Korea Utara telah mengembangkan senjata nuklir untuk ‘melumpuhkan Amerika,’ ucapnya.

Lee sendiri tinggal 27 kilometer dari situs Punggye-ri. Lokasi Pyongyang melakukan enam uji coba nuklir bawah tanah pada 2006-2007.

Saat tinggal disana, dia mengaku hampir tidak bisa khawatir soal dampak nuklir karena sibuk mencuri nafkah dan bertahan hidup.

Setelah diingat, kata dia, sebetulnya ada begitu banyak pasien penyakit parah yang tinggal di daerah Kiliju, daerah kediamanannya.

“Kiliju punya Jumlah pasien kanker lambung, pancreas, hati, tuberculosis, dan paru-paru tertinggil secara nasional. Ketika pasien diidagnosis mereka meninggal dalam waktu tiga bulan,” katanya.

Saat anaknya sakit, Lee sempat membawa putranya ke ibu kota Pyongyang dengan harapan bisa mendapat dokter yang lebih baik.

Pergi ke Pyongyang sendiri adalah tindakan ilegal bagi warga biasa. Akeses untuk layanan kesehatan, yang disediakan bagi elite Korut, juga hampir tidak mungkin didapat.

“[Kami] mencoba pergi ke rumah sakit (tempat dia dirawat) menunju rumah sakit di Pyongyang. Tapi pihak rumah sakit memberitahu kami bahwa semua pasien TBC dan hepatitis di Kiliju tak bisa memasuki Pyongyang,” ucapnya.

“Saya tidak bisa mendapatkan izin atau sertifikat, oleh sebab itu putra saya meninggal tanpa pernah mendapat kesempatan dirawat di rumah sakit Pyongyang.”

Kini, dia merasa kasihan pada warga Kiliju lainnnya yang masih tinggal di sana. Sebab mereka tidak tahu betapa bahayanya pengembangan nuklir terhadap kualitas hidup.

Leave A Reply

Your email address will not be published.