arnews.id
arnews.id Media Online

MGPA: Tiket Motogp Mandalika Sudah Terjuadl 60 Persen, Kelas Royal Sold Out

94

arnews – Mandalika Grand Prix Association (MGPA) selaku promotor menyebut tiket MotoGP Mandalika 2023 di Sirkuit Mandalika, 13-15 Oktober mendatang, terjual 60 persen.

Antusiasme penonton MotoGP Mandalika 2023 jadi salah satu sorotan MGPA kurang dari dua pekan jelang balapan.

Dikutip dari Antara, sampai dengan Senin (2/19), tiket MotoGP Mandalika sejauh ini terjual lebih dari 60 persen.

“Untuk yang hari ini belum [ada informasi terbaru], ya, Cuma kemarin, sudah di atas 60 persen. Detailnya nanti akan dibagikan. Yang kategori Royal sudah penuh, dan kategori Deluxe sudah hampir 75 persen,” kata Priandhi.

Berdasarkan situs resmi mtotgp Mandalika, kelas Royal merupakan kelas Deluxe yang memiliki bandrol Rp15 juta. Sedangkan kelas Primer yang tertinggi memiliki harga Rp20 juta.

Kategori reguler dumullai dengan harga Rp650 ribu. premium grandstand Rp1 juta, premium wear93 Rp2,3 juta, sedangkan kelas festival paling ekonomis dimulai dengan harga Rp250 ribu.

Priandhi mengungkapkan, Berdasarkan pengalaman sebelumnya, pembeli tiket MotoGP Mandalika cenderung ramai jelang acara dimulai.

“Seperti biasa, kan orang banyaknya beli las minute ya untuk grandstand, festival. Kita berharap dalam waktu seminggu ini tercapai kuota yang diinginkan,” ucap Priandhi.

Terkait persiapan, Priandhi menjelaskan MotoGP Mandalika hampir 100 persen bisa digelar. Pasalnya selama setahun belakangan, Sirkuit Mandalika beroperasi selama 10 bulan guna menggelar sejumlah event.

“MGPA selama 10 bulan telah menajalankan 45 kegiatan baik roda dua, roda empat, drifting, dan Mandalika Racing Series,” kata Priandhi.

“Event-event itu adalah pemeriksaan alat-alat. Kalau untuk [kegiatan]nalap, sebenarnya Sirkuit Mandalika selalu siap untuk menggelar balapan,” kata Priandhi.

Seperti persiapan penyelenggaraan, tenaga marshal untuk MotoGP Mandalika juga sebagian besar didominasi marshal Indonesia dan lokal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat.

“Kalau dibilang 100 persen Indonesia, sebenarnya enggak juga. Kita mau kasih marshal luar negeri karena skill-nya, entah timing system, hitung-hitungan, dan lainnya itu yang belum terbiasa. Jadi untuk lainnya itu bari 100 persen itu Indonesia,” ujar Priandhi.

“Jadi kebanggan buat kami bahwa marshal lokal bisa memberikan kontribusi, itu adalah kebanggaan,” tambah Priandhi.

Leave A Reply

Your email address will not be published.